Menghitung Pendapatan, Menghargai Pengabdian
Menghitung Pendapatan, Menghargai Pengabdian
Refleksi untuk Pendidikan Indonesia dari Sebuah Percakapan Seorang Guru Honorer
Ada kalanya sebuah bangsa perlu berhenti sejenak, bukan untuk menghitung berapa banyak gedung yang telah dibangun atau seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi yang dicapai, tetapi untuk bertanya pada dirinya sendiri:
Sudahkah kita benar-benar menghargai mereka yang setiap hari membangun manusia?
Pertanyaan itu kembali mengemuka ketika saya membaca sebuah ilustrasi dialog antara petugas sensus dan seorang guru honorer. Percakapan itu sederhana, bahkan mungkin fiktif. Namun, substansi yang dibawanya terasa begitu nyata bagi dunia pendidikan Indonesia.
Seorang petugas sensus datang dengan tugas mulia, mendata kondisi ekonomi masyarakat. Di tangannya ada tablet berisi angka-angka yang akan menjadi dasar penyusunan kebijakan. Sementara di hadapannya duduk seorang guru honorer yang selama bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
Ketika pertanyaan sederhana dilontarkan, "Berapa pendapatan Ibu setiap bulan?", jawaban yang muncul justru mengundang keheningan.
Tiga ratus ribu rupiah.
Bukan per minggu.
Bukan per hari.
Melainkan per bulan.
Tulisan ini bukan untuk memperdebatkan besaran nominal, karena kondisi guru honorer di Indonesia sangat beragam. Ada yang telah memperoleh penghasilan yang lebih baik melalui berbagai skema kebijakan, tetapi kita juga tidak dapat menutup mata bahwa di sejumlah tempat masih ada guru honorer yang menghadapi tantangan kesejahteraan yang serius.
Di sinilah letak persoalannya.
Pendidikan bukan hanya berbicara tentang kurikulum, teknologi pembelajaran, kecerdasan buatan, atau transformasi digital. Pendidikan juga berbicara tentang manusia yang menghidupkan seluruh proses itu, yaitu guru.
Guru adalah jantung pendidikan.
Ketika jantung itu bekerja dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh dukungan yang memadai, maka kita patut merenungkan kembali bagaimana wajah pendidikan yang sedang kita bangun.
Di ruang kelas, guru mengajarkan anak-anak untuk bermimpi.
Mereka mengajarkan kejujuran.
Mengajarkan kerja keras.
Mengajarkan harapan.
Mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan mampu mengubah masa depan.
Namun, ironi muncul ketika sebagian guru masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ini bukan sekadar persoalan ekonomi.
Ini adalah persoalan penghargaan terhadap profesi yang menjadi fondasi lahirnya seluruh profesi lainnya.
Karena sebelum ada dokter, insinyur, ilmuwan, hakim, atau menteri, selalu ada seorang guru yang lebih dahulu mengajari mereka membaca, menulis, dan mengenal dunia.
Di BERGEMA NUSANTARA, kita sering berbicara tentang ekosistem pendidikan yang berpihak kepada peserta didik.
Namun, keberpihakan kepada murid tidak akan pernah sempurna apabila kesejahteraan pendidiknya diabaikan.
Guru yang dihargai akan mengajar dengan lebih tenang.
Guru yang sejahtera akan memiliki ruang lebih luas untuk berinovasi.
Guru yang memperoleh dukungan akan lebih mampu mendampingi setiap anak menemukan potensinya.
Karena kualitas pendidikan tidak hanya lahir dari kebijakan yang baik, tetapi juga dari manusia-manusia yang menjalankannya.
Tentu saja, solusi persoalan ini tidak sesederhana menaikkan angka dalam selembar kebijakan. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan agar kesejahteraan guru terus meningkat secara berkelanjutan dan adil.
Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya menghargai guru sebagai investasi jangka panjang bangsa.
Sebab setiap rupiah yang dialokasikan untuk pendidikan sejatinya bukan sekadar belanja negara.
Ia adalah investasi untuk masa depan Indonesia.
Percakapan antara petugas sensus dan guru honorer pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran penting.
Data memang diperlukan untuk menyusun kebijakan.
Namun, angka tidak boleh membuat kita lupa pada manusia yang berada di baliknya.
Di balik setiap kolom pendapatan, ada pengabdian.
Di balik setiap statistik, ada perjuangan.
Dan di balik setiap guru yang tetap berdiri di depan kelas, ada harapan bahwa pendidikan akan terus menjadi jalan terbaik untuk membangun Indonesia.
Semoga suatu hari nanti, ketika petugas sensus kembali mengetuk pintu rumah seorang guru, pertanyaan tentang kesejahteraan tidak lagi dijawab dengan senyum yang menyembunyikan kepedihan, melainkan dengan senyum yang lahir dari rasa syukur karena pengabdian telah benar-benar dihargai.
Karena bangsa yang maju bukan hanya mampu menghitung pertumbuhan ekonominya, tetapi juga mampu menghormati mereka yang setiap hari menumbuhkan masa depan.
"Guru tidak pernah meminta dimuliakan. Mereka hanya berharap pengabdiannya dihargai secara layak. Sebab pendidikan yang bermartabat selalu dimulai dari kesejahteraan pendidiknya."
— Abdulloh Aup | BERGEMA NUSANTARA |MANTAN GURU HONORER



Comments
Post a Comment