Pantun adalah Alat Asah Logika



Bukan Sekadar Warisan: Pantun adalah Alat Asah Logika di Ruang Kelas

Oleh: Abdulloh Aup

​Hari Pantun Nasional sering kali hanya dirayakan sebagai seremonial budaya. Kita memakai baju adat, membacakan satu-dua bait jenaka, lalu selesai. Namun, jika kita melihat lebih dalam, pantun bukan sekadar urusan estetika bahasa. Pantun adalah instrumen pendidikan yang serius.

​Di tengah gempuran kurikulum yang menuntut kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan literasi, kita sering lupa bahwa nenek moyang kita sudah mewariskan alat pedagogis yang canggih bernama pantun.

Logika di Balik Sampiran dan Isi

​Bagi seorang pendidik, pantun harus dilihat sebagai latihan logika, bukan sekadar hafalan rima a-b-a-b.

​Mencari sampiran (dua baris pertama) yang relevan secara bunyi namun terpisah secara konteks dengan isi (dua baris terakhir), membutuhkan ketajaman berpikir. Siswa dipaksa untuk mencari padanan kata, memahami struktur kalimat, dan berpikir cepat. Ini adalah latihan kognitif tingkat tinggi yang sering diremehkan.

​Ketika siswa diajarkan membuat pantun, mereka sebenarnya sedang diajarkan untuk meruntutkan gagasan: Mulai dari pengantar, lalu masuk ke inti masalah.

Guru sebagai Garda Terdepan Etika

​Pendidikan Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar soal etika komunikasi. Media sosial membuat anak-anak kita terbiasa berkomentar pedas tanpa saringan. Di sinilah pantun mengambil peran vital.

​Pantun adalah seni "berkata-kata dengan adab". Ia mengajarkan siswa bagaimana menyampaikan kritik, sindiran, atau nasihat tanpa harus merendahkan lawan bicara.

​Para Guru yang terhormat, tugas Anda bukan menyuruh siswa menghafal "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian". Itu masa lalu. Tugas Anda adalah menantang siswa untuk merespons isu terkini—tentang lingkungan, korupsi, atau kejujuran akademik—melalui pantun buatan mereka sendiri.

Kembalikan Esensi, Bukan Sekadar Tradisi

​Kepada seluruh pemangku kebijakan pendidikan dan rekan guru di penjuru negeri: Jangan biarkan Hari Pantun Nasional berhenti di spanduk ucapan selamat.

​Gunakan pantun untuk melatih akal budi. Masukkan kembali sastra lama ini ke dalam diskusi-diskusi di kelas dengan pendekatan modern. Kita butuh generasi yang cerdas secara intelektual, tapi juga santun secara verbal. Dan itu bisa dimulai dari satu bait pantun.

Pohon jati tumbuh berjejer,

Kayunya kuat dibuat papan.

Jadi guru jangan sekadar mengajar,

Tapi mendidik logika dan kesopanan.


​Selamat Hari Pantun Nasional. Mari mendidik dengan substansi.


Comments

Popular Posts