Alarm di Senja Desember
Alarm di Senja Desember: Membedah Retakan Literasi dalam Cermin TKA 2025
Oleh: Abdulloh Aup
Pada Selasa, 23 Desember 2025, pemerintah merilis sebuah dokumen yang lebih menyerupai nisan daripada sekadar laporan hasil belajar. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 untuk jenjang SMA sederajat telah diumumkan, dan ia membawa kabar yang menggigilkan: sebuah potret buram tentang kompetensi akademik generasi kita yang sedang berada di titik nadir.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin di atas meja birokrat; mereka adalah jeritan sunyi dari sistem pendidikan yang sedang mengalami dehidrasi nalar.
Anatomi Kegagalan: Ketika Angka Menjelma Tragedi
Data yang dirilis Kemendikdasmen (via Kompas.com) menyajikan realitas yang getir. Rata-rata nilai Matematika Wajib hanya menyentuh angka 36,10, sementara Bahasa Inggris Wajib jatuh di titik nadir 24,93. Bahkan Bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa ibu dan fondasi cara berpikir kita, hanya mampu meraih 55,38.
Secara filosofis, bahasa adalah rumah bagi keberadaan manusia, dan logika (matematika) adalah jendelanya. Jika nilai rata-rata bahasa dan logika kita berada di bawah garis median yang layak, maka kita sedang membiarkan generasi masa depan tinggal dalam rumah yang gelap dan tanpa ventilasi pemikiran.
Paradoks Kurikulum dan Erosi Berpikir Kritis
Mengapa kita sampai di titik ini? Mengapa Ekonomi hanya meraih 31,68 dan Kimia 34,92? Jawabannya melampaui sekadar "soal yang sulit". Kita sedang menyaksikan dampak sistemik dari model pembelajaran yang lebih memuja hafalan prosedur daripada kedalaman konsep.
Siswa kita mampu menghafal rumus, tetapi mereka gagap saat harus menalar "mengapa" rumus itu ada. Pembelajaran satu arah telah membunuh daya eksplorasi. Di ruang kelas, guru seringkali terdesak oleh administratif sehingga mengabaikan diskusi. Hasilnya? Siswa mampu mengerjakan soal mekanis, namun lumpuh saat berhadapan dengan soal berbasis pemecahan masalah (problem solving). Kita telah menciptakan "operator rumus," bukan "pemikir kritis."
Warisan Pandemi dan Luka Digital yang Belum Sembuh
Kita tidak bisa menafikan bayang-bayang panjang pandemi Covid-19. Meskipun tahun 2025 seharusnya menjadi masa pemulihan, kenyataannya implementasi kurikulum berbasis kompetensi belum merata. Kesenjangan fasilitas dan kualitas pendampingan guru di berbagai daerah menciptakan jurang kompetensi yang lebar.
Sesuai dengan hasil PISA Indonesia yang konsisten di bawah standar internasional, masalah ini bersifat sistemik:
- Miskonsepsi Dasar: Fondasi yang rapuh sejak pendidikan dasar.
- Budaya Literasi Rendah: Informasi hanya dikonsumsi sebagai hiburan, bukan sebagai alat bernalar.
- Stigma Akademik: Matematika masih dianggap sebagai "monster" yang menakutkan, bukan sebagai bahasa alam semesta yang menyenangkan.
Menuju Resiliensi: Mengubah Alarm Menjadi Aksi
Kemendikdasmen menyatakan bahwa hasil TKA akan menjadi rujukan pemetaan kebijakan. Namun, refleksi tidak boleh berhenti di atas kertas kerja kementerian. Jika kita terus memandang numerasi dan literasi hanya sebagai materi ujian, kita akan terus gagal.
Numerasi harus dibumikan. Ia adalah bekal untuk memahami data di dunia kerja, alat untuk membuat keputusan logis dalam hidup sehari-hari. Bahasa Inggris harus menjadi jendela dunia, bukan sekadar momok tata bahasa. Dan Bahasa Indonesia harus dikembalikan martabatnya sebagai alat bernalar.
Sekolah Sebagai Ruang Aman untuk Berpikir
Pendidikan Indonesia tidak kekurangan anak-anak cerdas, namun kita seringkali kekurangan sistem yang memberi ruang untuk salah dan bertanya. TKA 2025 adalah alarm keras yang memekakkan telinga. Ia adalah peringatan bahwa kita harus berbenah sekarang, secara kolektif—antara guru, sekolah, dan orang tua.
Mari kita berhenti mengejar angka semu dan mulai merawat daya pikir. Sebab, jika kita membiarkan darurat literasi ini berlanjut, kita tidak hanya kehilangan nilai ujian; kita sedang kehilangan masa depan bangsa.
#PendidikanIndonesia #LiterasiNumerasi #TKA2025 #EvaluasiPendidikan



Comments
Post a Comment